Seputar Seminar Iptek Bidang Penerbangan : Aviation Safety “Pemahaman Airmanship dan Hubungannya terhadap Keselamatan Penerbangan” –

Seputar Seminar Iptek Bidang Penerbangan : Aviation Safety “Pemahaman Airmanship dan Hubungannya terhadap Keselamatan Penerbangan”

Posted by

img-20170304-wa006

Ketua Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug Bapak Novyanto Widadi, SIP. mengatakan, budaya keselamatan harus menjadi dasar setiap langkah dan perilaku insan penerbangan di Indonesia dan dunia. Indonesia ke depan membutuhkan insan-insan keselamatan atau airmanship yang makin banyak.

“Jika orang sudah master di bidang keselamatan, maka di manapun dia, siap bekerja dan ditempatkan. Mereka juga siap mengaplikasikan aspek dan nlai-nilai keselamatan itu dalam kehidupannya,” katanya pada presentasi di STPI Curug, kemarin.

Airmanship, lanjut dia merupakan hasil dari satu proses yang panjang dan berkelanjutan. Salah satunya melalui proses pendidikan dan latihan (diklat) penerbangan di STPI ini. “Komitmen kita adalah membangun budaya keselamatan harus dimulai atau start dari kampus. STPI ini harus menjadi titik awal untuk membangun pengetahuan dan budaya keselamatan yang tinggi,” kata Bapak  Ketua STPI.

“Seluruh proses diklat di STPI harus mengutamakan keselamatan. Keselamatan itu harus menjadi ruh dan menjiwai setiap langkah dan gerak mereka apapun profesi dan dimanapun bertugas baik sebagai pilot, co pilot, teknisi, bahkan orang yang bekerja di ground handling. Oleh karena itu, seluruh pemangku kepentingan dari hulu sampai hilir harus mempunyai framework yang sama. Mewujudkan keselamatan itu mutlak dan tidak boleh ada toleransi. Memang tidak mudah mewujudkan keselamatan itu. Tapi, keselamatan mutlak dan tak bisa diganggu gugat” jelas beliau.

Manajemen SMS (Safety Management System)

Ketua STPI itu menegaskan, pihaknya sudah komitmen menanamkan nilai-nilai keselamatan dan selanjutnya diaplikasikan dalam kehidupannya sehari-hari harus dibangun dan diterapkan sejak taruna saat mereka menuntut ilmu di kampus. “Safety has to start on campus,” kata beliau.

“Safety Management System atau SMS harus ditanamkan dan dibudayakan sejak taruna tingkat dasar. Apapun prodi dan dimanapun bertugas nanti, keselamatan itu harus menjadi tujuan utama untuk diwujudkan,” kata beliau.

Dalam SMS, sedikitnya ada tidak komponen yang harus dilakukan, yaitu hazard identification atau identifikan potensi celaka. Semua hal dan kejadian dalam penerbangan misalnya, harus diidentifikasi dengan baik. Apa dampaknya dan bagimana cara menghindari atau memperkecil dampak negative yang ditimbulkan,” sebut kata beliau.

Faktor lain adalah mitigation hazard atau memperkecil dampak negative yang mungkin bakal terjadi atau tengah dialami dalam satu kasus atau bencana. Setiap insan penerbangan harus mampu mengindentifikasi sekaligus memperkecil dampak bencana yang ditimbulkan.

Dan juga faktor safety culture atau membangun budaya keselamatan. Budaya keselamatan itu harus dibangun, dididik dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari terlebih saat masih taruna di kampus. Terlebih bagi taruna penerbangan di STPI, budaya keselamatan itu harus dibangun dan dibiasakan sejak bangun tidur sampai tidur lagi.

“Dengan SMS tersebut, diharapkan tidak terjadi bencana atau bisa memperkecil dampak yang bakal ditimbulkan dalam satu kasus atau bencana,” tegas beliau.

img-20170304-wa0029-553x400

Pada materi lain, disampaikan oleh nara sumber Marsma Dr. Asep Andang Supriyadi, selaku Kadis Survei dan Foto Udara TNI AU.

Budaya dan perilaku masyarakat khususnya penumpang pesawat terbang perlu dibangun  dan diberdayakan untuk meningkatkan keselamatan penerbangan.

“Banyak perilaku penumpang pesawat yang kelihatan sepela padahal membahayakan keselamatan penerbangan. Misalnya mengoperasikan  handphone (hp) selama di pesawat. Kita sangat prihatin itu, karena sesungguhnya membahayakan keselamatan banyak orang,” kata Marsma Dr. Asep Andang Supriyadi .

Menurutnya perlu sosialisasi baik melalui seminar, talkshow dan lainnya tentang airmanship  mulai dasar sampai implementasi  yang baik dan benar. Budaya dan pemahaman mengenai keselamatan penerbangan harus dibangun sejak kecil bahkan dari hal-hal sepele.

”Setiap  orang termasuk penumpang pesawat udara harus taat dan petuh pada aturan keselamatan. Nyawa manusia terutama penumpang pesawat terbang harus menjadi prioritas untuk diselamatkan oleh semua pihak terkait,” jelas Dr. Asep.

Menurut Kadis Survei dan Foto Udara TNI AU itu, selain krew pesawat terutama pilot, masyarakat umum terutama penumpang pesawat harus sadar dan patuh pada aturan keselamatan.

“Keselamatan dan nyawa mansusia harus  menjadi fokus kerja dan diselamatkan lebih dahulu dibandingkan lainnya,” papar Dr. Asep.

Seperti diketahui,  menggunakan hp atau alat komunikasi dua arah lainnya di dalam pesawat bisa mengganggu navigasi penerbangan. Jika itu yang terjadi, maka keselamatan pesawat dan seluruh penumpangnya akan menjadi taruhannya.

Semboyan umum di dunia penerbangan:  The Sky is Very Vast, but There is No Room for Error.

dsc_0129_resize

Pada materi lain yang disampaikan oleh nara sumber Dr. Ermansyah Syarief mengatakan, airmanship dalam dunia penerbangan merupakan satu keyakinan atau believe. Tapi, airmanship juga seni memimpin  dan mengaplikasikan dalam penerbangan yang berwawasan keselamatan yang tinggi.

”Tugas kita bersama terutama dunia pendidikan bagaimana membangun jiwa dan pemahaman  mengenai airmanship di kampus STPI ini,” kata Ermansyah.

Yang mendesak dilakukan sekarang adalah, bagaimana mendidik dan meningkatkan  kemampuan mereka sehingga mempunyai kompetensi yang cukup di bidang penerbangan.

“Sedikitnya,  ada tiga komponen dalam  kompetensi yaitu knowledge atau pengetahuan, skill atau ketrampilan dan attitude  atau sikap dan perilaku yang baik,” kata Ermansyah yang juga dosen dan instruktur motivasi beberapa perguruan tinggi itu.

Dari bekal tiga kemampuan tersebut, menurut Ermansyah orang akan bisa mengetahui dan mengaplikasikan penerbangan yang mempunyai wawasan keselamatan yang tinggi.

Kendati begitu, menurut Ermansyah, airmanship juga harus menjadi pemimpin dalam satu organisasi penerbangan misalnya. “Dalam hal ini, seorang pemimpin itu harus bisa mengambil keputusan yang tepat dan cepat saat dalam kondisi darurat,” tandas  Ermansyah lagi.

Dalam kondisi darurat tersebut, seorang airmanship dan leader yang sejati harus bisa mengambil keputusan yang tepat dan menyelamatkan orang sebanyak- banyaknya.

 

Dr. Ermansyah Syarief juga menceritakan Kisah Capt. Abdul Razak

Dalam dunia  penerbangan kita pernah ada kejadian, pesawat Garuda Indonesia ari Ampenan Lombok ke Yogyakarta. Di tegah perjalanan mengalami masalah dan akhirnya pesawat mendarat di anak sungai Bengawan Solo.

“Keputusan Capt. Abdul Razak merupakan langkah tepat dan layak diapresiasi.  Setelah berbicara dengan co pilot, akhirnya diputuskan pesawat mendarat di sungai dan seluruh penumpangnya selamat,”  terang Ermansyah.

Kasus lain dialami Albert Burhan, Presdir dan CEO Citilink Indonesia yang memutuskan untuk  mundur setelah diketahui ada salah satu pilotnya yang mabuk.

“Keputusan Albert itu sangat tepat dilakukan untuk  menyelamatkan ratusan bahkan ribuan penumpangnya,” tegas Ermansyah.

 

dr-ermansyahhhh-553x359

Seminar Ilmu Pengetahuan Bidang Penerbangan yang dihelat Resimen Taruna STPI, bukan hanya menjadi pertemuan ilmiah yang menghadirkan para tokoh dan akademisi di bidangnya. Taruna STPI mengajak seluruh tamu yang hadir untuk mengunjungi atau “tour de campus” STPI.

Dengan ditemani para Duta STPI dan beberapa taruna madya dan dewasa kampus tersebut, seluruh tamu undangan, termasuk mahasiswa politeknik dan pelajar SMK Penerbangan, diajak dan diperkenalkan ke seluruh fasilitas diklat di kampus penerbangan tertua di Tanah Air itu. Salah satu fasilitas diklat unggulannya adalah Simulator B-737-800 NG dan A-320 yang ada di kampus itu.

Seluruh fasilitas diklat diklat mulai simulator, lab air traffic controller (ATC), lan parker dan marshaller, lab x-ray dan fasilitas teknik penerbangan ditunjukkan kepada ratusan tamu dan undangan seminar dari berbagai daerah di Tanah Air itu.

capt-asep-dan-kosasih-lg

Pada kesempatan lain Bapak Ir. Ahmad Kosasih, SSiT., MT, selaku Kepala Divisi Pengembangan Usaha STPI Curug mengatakan, pihaknya mempunyai dua simulator unggulan yaitu Boeing 737-800 NG dan Airbus A-320. “Keduanya merupakan fasilitas unggulan yang siap menerima siswa untuk mengambil rating di STPI. Setiap hari, simulator itu bisa melayani sampai lima sesi, masing-masing 4 jam per sesi, Jika siswa penuh, mulai jam 06.00 sampai jam 24.00 baru selesai dioperasikan,” katanya.

Selain itu, lanjut dia, STPI juga memiliki simulator-simulator untuk pesawat kecil termasuk helikopter. Semua bisa digunakan dan siap menerima siswa untuk mengambil rating sesuai minat dan kemampuan siswanya. “Fasilitas diklat bagus dan didukung SDM yang unggul di bidangnya,” papar beliau.

lab-b-737-800-ng-553x400

dsc_0357_resize

dsc_0399_resize

Sementara, Kepala Jurusan Manajemen Penerbangan (Kajur Manpen) STPI, Bapak Andung  Luwihono, SSiT., ST., MM., pihaknya mempunyai fasilitas laboratorium yang lengkap, mulai parkir pesawat marshaller, x-ray serta ruang kelas untuk ujian lengkap dengan fasilitas komputernya.

“Kini, Jurusan Manpen STPI mulai banyak menerima siswa, termasuk diklat Aviation Security (Avsec) dari berbagai perusahaan dan masyarakat umum yang mengambil diklat di STPI Curug. Semua bisa dimanfaatkan untuk proses diklat taruna dan siswa lainnya,” kata Bapak Andung.

Kabag Administrasi Umum STPI, Bapak Afen Sena, SE., SSiT., M.Si, menambahkan, kampus STPI komit untuk memberikan pelayanan diklat yang terbaik dan berkualitas. “Kalau soal diklat penerbangan STPI memang yang paling tua. Oleh karenanya, kita bertekad untuk menjadi yang terbaik dan terdepan di bidangnya,” sebut alumni PLLU STPI itu.

Berbagai fasilitas dan pelayanan diklat di STPI terus ditingkatkan. Sebagai Badan Layanan Umum (BLU), seluruh komponen di STPI harus berlomba-lomba untuk menjadi yang terbak serta pelayanan prima. Dengan begitu, diharapkan semua luklusan diklat di STPI Curug memiliki kelebihan dan siap bekerja di bidangnya,” tegas Bapak Afen Sena.

STPI Curug